Hari ini aku memandang wajahku di cermin. Bayangan yg terpantul seakan bukan diriku. Kulitku pucat, tubuhku tak berisi, rambutku pun hilang, mataku sayu, kanan kiri tanganku tertancap selang selang yg tersambung dengan botol botol yg menggantung di atas kursi roda yg kugunakan. Seakan itu bukan bayanganku, tetapi bayangan tengkorak perempuan yang menggunakan pakaian rumah sakit, terduduk kaku. Tapi ini benarlah diriku akt tak mungkin lupa seorang wanita yang mendorong kursi rodaku, dia ibu ku. Ibu yg melahirkanku, wanita karier yg tetap menjaga keharmonisan keluarganya. Ibu tersenyum memandang bayanganku di kaca. Senyum yg tulus yg selalu ia berikan kepada seluruh keluarganya. Inginku bertanya dimana aku?tapi tak ada septah pun kata yang keluar dari bibirku. Ibu memutarkan kursi rodaku menghadap dirinya. Ibu tahu aku ingin berbicara. Ibu tahu apa yang ingin aku tanyakan, kareng dia langsung memberitahuku
"Ra, alhamdulilah kamu sudah sadar! Sekarang kita berada di Singapur, kamu akan pulih kembali seperti dulu, kamu akan menjalani terapi di rumah sakit ini"
Ibu tetap memberikan senyumnya walau ku tahu ia menahan air mata yang tak boleh jatuh di depanku. Aku tahu wanita di depanku ini tak seperti dulu. Tak memakah pakaian kantor yg selalu ia pakai, tak ada sedikit pu cosmetic yg menyentuh wajahnya. Tetapi wanita yg didepanku ini tetap cantik, tetap memberikan cinta kepada anaknya, tetap bercahaya keibuan. Dan akhirnxa aku dapat tersenyum, kubalas senyum ibu yang relalu berkorban untukku.
Bersambung
"Ra, alhamdulilah kamu sudah sadar! Sekarang kita berada di Singapur, kamu akan pulih kembali seperti dulu, kamu akan menjalani terapi di rumah sakit ini"
Ibu tetap memberikan senyumnya walau ku tahu ia menahan air mata yang tak boleh jatuh di depanku. Aku tahu wanita di depanku ini tak seperti dulu. Tak memakah pakaian kantor yg selalu ia pakai, tak ada sedikit pu cosmetic yg menyentuh wajahnya. Tetapi wanita yg didepanku ini tetap cantik, tetap memberikan cinta kepada anaknya, tetap bercahaya keibuan. Dan akhirnxa aku dapat tersenyum, kubalas senyum ibu yang relalu berkorban untukku.
Bersambung
Komentar